Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati - Brian Khrisna


 

Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Penulis: Brian Khrisna

Genre: Fiksi kontemporer, drama kehidupan, reflektif

Penerbit: Buku Mojok

Tahun Terbit: 2022

    Buku ini sering sekali muncul di mana-mana. Potongan kutipan, sampulnya, judulnya, semuanya lalu-lalang di linimasa. Awalnya, yang muncul justru rasa curiga: apa yang sebenarnya spesial dari buku ini? Tapi setelah dipikir ulang, rasanya tidak ada buku yang benar-benar overrated. Setiap buku punya ceritanya sendiri, dan setiap cerita punya pembacanya masing-masing. Jadi, apa salahnya mengikuti rasa penasaran itu? Dengan sedikit FOMO dan tanpa ekspektasi berlebihan, buku ini akhirnya dibeli. Yang tidak disangka, di balik kesederhanaannya, tersimpan pesan yang begitu hangat dan manusiawi.

    Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati bergerak dengan cerita yang tampak ringan, bahkan nyaris biasa. Namun justru dari kesederhanaan itulah kekuatannya muncul. Cerita ini berbicara tentang hidup, kematian, penyesalan, dan harapan bukan dengan nada berat, melainkan lewat momen-momen kecil yang akrab. Makanan, percakapan singkat, ingatan, dan keinginan sederhana menjadi jembatan untuk membahas hal-hal besar yang sering kali sulit diucapkan. Buku ini tidak mencoba menggurui pembaca tentang arti hidup, tetapi mengajak duduk sebentar dan mendengarkan.

    Cerita ini bekerja dengan cara yang tenang, merangkul emosi tanpa pernah memaksanya meledak. Ada rasa sedih, hangat, sepi, dan lega yang hadir bersamaan. Ceritanya tidak dramatis secara berlebihan, tetapi tetap mampu menyentuh karena dekat dengan keseharian. Tokoh-tokohnya digambarkan sebagai manusia biasa dengan penyesalan yang belum selesai, dengan kata-kata yang terlambat diucapkan, dan dengan keinginan sederhana yang baru disadari ketika waktu terasa terbatas.

    Lewat kisah-kisahnya, buku ini menyoroti perilaku manusia yang sering menunda: menunda bicara, menunda meminta maaf, menunda menikmati hal-hal kecil karena merasa selalu ada “nanti”. Ada ketakutan, ada kerinduan, dan ada kelelahan hidup yang terasa sunyi. Namun di saat yang sama, buku ini juga memperlihatkan bahwa manusia punya kemampuan untuk menemukan makna dari hal yang sangat sederhana, seperti seporsi mie ayam, yang bukan sekadar makanan, tapi simbol dari ingatan, kehangatan, dan hidup yang pernah dijalani.

    Pada akhirnya, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati tidak meninggalkan pembaca dengan rasa hampa, melainkan dengan kesadaran yang lembut. Bahwa hidup tidak selalu tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan tidak selalu datang dari hal yang rumit. Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah berhenti sejenak, merasakan apa yang ada di depan kita, dan benar-benar hadir. Buku ini mengingatkan bahwa sebelum segalanya berakhir, mungkin masih ada hal kecil yang layak dinikmati dan dihargai.

-Sebelum segalanya selesai, selalu ada momen kecil yang layak dinikmati.-

Postingan populer dari blog ini

Di Tanah Lada - Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Kesetiaan Mr. X - Keigo Higashino

Satine - Ika Natassa