Di Tanah Lada - Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie




Judul: Di Tanah Lada

Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Penerbit: Grasindo

Tahun Terbit: 2015

    Setiap orang, katanya, memiliki satu buku yang tanpa disadari membuka pintu ke dunia membaca. Bagi saya, pintu itu terbuka lewat Di Tanah Lada. Sebelum buku ini, membaca bukanlah kebiasaan, lebih sering sekadar lewat. Buku dibuka, ditutup, lalu dilupakan. Hingga suatu hari seorang teman meminjamkan novel ini, dengan keyakinan yang terasa lebih dari sekadar saran. Rasa penasaran membuat saya membacanya secara iseng di kelas, di sela waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk hal lain. Namun iseng itu tidak bertahan lama. Cerita di dalamnya perlahan membuat saya berhenti sejenak, lalu memilih untuk tinggal.

    Sebagai sebuah cerita, Di Tanah Lada tidak hadir dengan suara keras. Novel ini berjalan pelan, hampir sunyi, dan justru di situlah kekuatannya. Ziggy memilih sudut pandang Salva, seorang anak kecil, untuk membawa pembaca masuk ke dunia yang penuh kekerasan, ketakutan, kehilangan, dan kesepian tanpa perlu banyak teriak. Bahasa yang digunakan terasa polos, nyaris lugu, namun menyimpan luka yang dalam. Salva tidak selalu memahami apa yang terjadi di sekelilingnya, sementara pembaca dipaksa memahami lebih dulu. Dari jarak inilah rasa sakit itu bekerja, diam-diam, tapi menetap.

    Kesan yang paling kuat muncul dari cara novel ini memperlakukan kesunyian. Tidak ada narasi yang menggurui, tidak ada upaya memaksa simpati. Penulis memberi ruang bagi pembaca untuk merasakan sendiri, dan ruang itu sering kali terasa sempit. Gaya bertuturnya sederhana dan tenang, tetapi sangat terukur. Detail-detail kecil dalam kehidupan Salva disusun dengan hati-hati, membuat dunia yang ia tinggali terasa nyata tanpa perlu dilebih-lebihkan. Membaca buku ini seperti menginjak tanah kering secara perlahan terlihat biasa, tetapi setiap langkah meninggalkan jejak.

    Lewat tokoh-tokohnya, Di Tanah Lada juga menyodorkan potret manusia yang tidak selalu nyaman untuk dilihat. Orang dewasa yang seharusnya melindungi justru menjadi sumber luka. Diam yang semestinya aman berubah menjadi bentuk kekerasan lain. Dari Salva, terlihat bagaimana anak-anak sering kali tidak diberi ruang untuk memilih; mereka hanya bertahan dengan cara yang mereka miliki. Sementara itu, orang-orang di sekitarnya menunjukkan betapa mudahnya manusia membenarkan tindakan buruk atas nama keadaan. Pada akhirnya, novel ini terasa seperti cermin yang mengajak pembacanya bertanya: sejauh apa kepedulian kita terhadap penderitaan orang lain, terutama ketika penderitaan itu tidak berisik? Buku ini mengingatkan bahwa kadang yang paling menyakitkan bukan kekerasan itu sendiri, melainkan ketidakpedulian yang mengikutinya.

-Setiap buku punya jalannya sendiri. Buku ini sampai lewat seseorang yang mengingatkan bahwa sering kali, cerita datang bersama manusia.-



Postingan populer dari blog ini

Kesetiaan Mr. X - Keigo Higashino

Satine - Ika Natassa